Hujan Malioboro
Malioboro kian hari kian ramai, panas menyengat Jogja dan
hiruk pikuk kendaraan yang padat menambah efek metropolitan Malioboro kian
kentara. Namun, pernahkah sesekali pada cuaca mendung teduh menyempatkan diri
menyusuri Jalan Malioboro yang terletak di jantung Kota Yogyakarta ini?
Ya aku
pernah, sekitar satu tahun yang lalu. Di suatu siang yang panasnya sangat
menyengat hingga telapak kaki rasanya hampir terbakar, aku memulai perjalanan menuju
Malioboro dengan bermacet-macet ria, tapi tak apalah, bagaimanapun macetnya
Jogja aku sudah kadung jatuh hati. Dengan perbekalan kamera dan sebotol air
minum perjalanan menyusuri Malioboro pun dimulai. Langit mulai menggelap dan
suhu udara kian dingin. Aku memelankan langkahku menikmati suasana yang kian
lama kian teduh sambil sesekali menatap langit
yang terlihat jelas keberatan menanggung awan-awan menebal. Malioboro terasa sedikit lebih lengang
sekarang. Gedung-gedung peninggalan Belanda di kiri kanan jalan yang menjelma
pertokoan telihat kusam, dengan cat putihnya yang mengelupas di beberapa tempat. Kian
terhimpit. Tak ada ruang antar bangunan kecuali dipisahkan oleh jalan ataupun
gang/gang kecil. Delman berderet dengan pak kusirnya yang khas memakai
blangkon. Lampu jalan. Patung-patung ditengah pembatas jalan yang menghiasi
muka malioboro. Bakul-bakul yang masih
saja menjajakan dagannya dengan ramah membuat Pasar Beringharjo tak pernah
sepi. Semua hal itu bersatu padu membuat memori yang syahdu tentang Maliboro
dikala mendung.
Lalu, seketika hujan mulai turun,
membasahi aspal panas malioboro. Bau debu terguyur hujan yang khas naik ke
permukaan menusuk hidung. Gedung-gedung tua itu bersentuhan dengan air, bercucuran
turun lewat atapnya yang kadang merembes membasahi jalan disepanjang toko. Patung-patung
dijalanan kegirangan, debu dan polusi berguguran dibawa hujan. Pak Kusir
memilih sedikit kebasahan gara-gara angin nakal yang membelokkan hujan kedalam
delmannya. Rupanya belum cukup disitu, malioboro yang kehujanan ini masih
disuguhi atraksi cantik dari rangkaian pawai kebudayaan yang mengular. Membuat
kerumunan orang-orang mendekat rela kehujanan.
Dimana aku?
Diantara kerumunan yang bahagia itu, mengabadikan setiap momen dan sudut-sudut
yang mencipta keindahan, sambil menyesapi bau hujan, aku menikmati setiap detik
yang merdu, dibawah mendung, menunggui hujan, di antara gedung-gedung tua dan
keramahannya yang tak hilang di usia senja
Ah aku tau, Malioboro ternyata masih
cantik, nafas khas Yogyakarta-nya belumlah hilang dari pandangan. Ia masih
mempertahankan “ketuan-nya” ditengah gempuran menjadi metropolitan. Malioboro masihlah syahdu, apalagi dikala
hujan begini, tak henti-hentinya ia menghadiahiku kenangan.


0 komentar: