Hujan Malioboro

22.57 Unknown 0 Comments

Malioboro kian hari kian ramai, panas menyengat Jogja dan hiruk pikuk kendaraan yang padat menambah efek metropolitan Malioboro kian kentara. Namun, pernahkah sesekali pada cuaca mendung teduh menyempatkan diri menyusuri Jalan Malioboro yang terletak di jantung Kota Yogyakarta ini?
          
  Ya aku pernah, sekitar satu tahun yang lalu. Di suatu siang yang panasnya sangat menyengat hingga telapak kaki rasanya hampir terbakar, aku memulai perjalanan menuju Malioboro dengan bermacet-macet ria, tapi tak apalah, bagaimanapun macetnya Jogja aku sudah kadung jatuh hati. Dengan perbekalan kamera dan sebotol air minum perjalanan menyusuri Malioboro pun dimulai. Langit mulai menggelap dan suhu udara kian dingin. Aku memelankan langkahku menikmati suasana yang kian lama kian teduh sambil sesekali menatap langit  yang terlihat jelas keberatan menanggung awan-awan menebal.   Malioboro terasa sedikit lebih lengang sekarang. Gedung-gedung peninggalan Belanda di kiri kanan jalan yang menjelma pertokoan telihat kusam, dengan cat putihnya yang  mengelupas di beberapa tempat. Kian terhimpit. Tak ada ruang antar bangunan kecuali dipisahkan oleh jalan ataupun gang/gang kecil. Delman berderet dengan pak kusirnya yang khas memakai blangkon. Lampu jalan. Patung-patung ditengah pembatas jalan yang menghiasi muka malioboro. Bakul-bakul yang  masih saja menjajakan dagannya dengan ramah membuat Pasar Beringharjo tak pernah sepi. Semua hal itu bersatu padu membuat memori yang syahdu tentang Maliboro dikala mendung.
Lalu, seketika hujan mulai turun, membasahi aspal panas malioboro. Bau debu terguyur hujan yang khas naik ke permukaan menusuk hidung. Gedung-gedung tua itu bersentuhan dengan air, bercucuran turun lewat atapnya yang kadang merembes membasahi jalan disepanjang toko. Patung-patung dijalanan kegirangan, debu dan polusi berguguran dibawa hujan. Pak Kusir memilih sedikit kebasahan gara-gara angin nakal yang membelokkan hujan kedalam delmannya. Rupanya belum cukup disitu, malioboro yang kehujanan ini masih disuguhi atraksi cantik dari rangkaian pawai kebudayaan yang mengular. Membuat kerumunan orang-orang mendekat rela kehujanan. 
            Dimana aku? Diantara kerumunan yang bahagia itu, mengabadikan setiap momen dan sudut-sudut yang mencipta keindahan, sambil menyesapi bau hujan, aku menikmati setiap detik yang merdu, dibawah mendung, menunggui hujan, di antara gedung-gedung tua dan keramahannya yang tak hilang di usia senja
Ah aku tau, Malioboro ternyata masih cantik, nafas khas Yogyakarta-nya belumlah hilang dari pandangan. Ia masih mempertahankan “ketuan-nya” ditengah gempuran menjadi metropolitan.  Malioboro masihlah syahdu, apalagi dikala hujan begini, tak henti-hentinya ia menghadiahiku kenangan. 

You Might Also Like

0 komentar: